pintu keluar's Blog

jalan keluar satu-satunya

Innalillah….

on November 27, 2011

Sore itu masih basah, gerimis masih turun sesekali, genangan air dimana-mana, dan tentunya udara menjadi sejuk.

Aku baru saja menapakkan kaki ke aspal setelah turun dari bis jemputan kerja. Sedikit berlari dan menghidar dari genangan air, akhirnya aku sampai juga dirumah. Tapi ada yang berbeda. Ibu tidak biasanya berpakaian rapih pada jam-jam segini, tidak pula bapak yang tidur-tidur ayam di sofa pada senja menjelang maghrib. Begitu selesai aku menyapa dan sungkem pada ibu, tetiba matanya berair sambil menatapku. Aku tahu ada yang tidak beres. Tapi apa?

Tak perlu waktu lama untuk menunggu ibu mengatakan penyebab mengapa matanya berair. Dengan menatap nanar, beliau berkata, “adikmu, yiyis sudah berpulang. Dengan caranya sendiri.”

Sekarang giliranku yang terdiam.

Aku masih berusaha mencerna apa maksud perkataan ibu.

Berpulang… dengan caranya sendiri… apa maksudnya?

Ibu melanjutkan kata-katanya, “yiyis bunuh diri nak, gantung diri tadi siang. Itu bapakmu masih lemas. Masih shock.” pecahlah tangis ibu, dan lemaslah lututku.

Tidak ada yang sanggup aku katakan selain tertunduk, lesu, kemudian terduduk lemas.

Yiyis sebenarnya adalah keponakanku. Aku dan ibunya bersepupu. Dan hari ini dia berpulang, dengan caranya sendiri. Kepalaku masih mencerna apa yang terjadi, apa penyebabnya, bagaimana kronologisnya, apakah betul-betul bunuh diri atau dibunuh, apa dipikiran dia sehingga dia melakukan ini, dan setumpuk pikiran, asumsi, opini, berkecamuk.

Ponakanku gantung diri, ponakanku sudah tiada, ponakanku sudah pergi. Dan banyak pikiran yang bersuara di benakku.

Latar belakang tindakannya sebenarnya mudah ditebak, mengapa keponakanku yang baru berumur 19 tahun melakukan tindakan seperti ini.

Semua diawali dari perceraian orang tuanya. Saat itu, usianya masih sekitar awal umur belasan, mempunyai seorang adik perempuan dengan jarak usia sekitar 5 tahun dan kondisi rumah yang tidak kondusif sepertinya berpengaruh pada pertumbuhan psikologisnya. Hingga akhirnya orang tuanya bercerai, ayahnya pergi entah kemana, dan ibunya menikah lagi. Semua terasa berbeda. Dia seperti kurang terarah, insecure, bingung, tak ada panutan. Tapi itu tidak lama, karena sepertinya ibunya mampu mengatasi keadaan, termasuk menghadirkan sosok ayah baru untuk ponakanku dan adiknya. Namun, lagi-lagi pernikahan itu tidak bertahan lama. Perceraian pun kembali terjadi. Dan untuk perceraian yang kedua kali ini, sepertinya kedua keponakanku sudah tidak terlalu terpukul, meskipun aku yakin dia bingung dengan kondisi keluarga yang tidak stabil.

Setelah beberapa lama, ibunya kembali menikah. Dan ini merupakan pernikahan terakhir, karena tidak lama ibunya menderita sakit keras dan kemudian meninggal dunia. Sepertinya, disinilah kemelut itu memburuk.

Perceraian pasti berdampak psikologis pada anak. Apalagi dalam kasus ini, keponakanku yang notabene anak pertama dan lelaki merasa punya tanggung jawab melindungi ibunya. Namun diusia dimana dia butuh motivasi, butuh dukungan dan perlindungan, satu-satunya orang yang dia miliki yaitu ibunya, pergi untuk selamanya. Dia merasa sendiri, pun dibebani seorang adik perempuan yang harus dia jaga. Dia mau tidak mau harus jadi orang tua.

Sepeninggal ibunya, kedua keponakanku diasuh oleh neneknya. Diharapkan, tetap ada yang mengawasi dan menjaga. Toh neneknya tidak tinggal sendiri, ada 2 pamannya yang tinggal serumah.

Namun, lagi-lagi asumsiku, sepertinya ada yang tidak cocok dengan cara mengasuh neneknya. Ponakanku, yiyis adalah korban perpecahan rumah tangga, ayahnya entah kemana, orang tua dia satu-satunya yaitu ibunya pun sudah meninggal dunia. Untuk kondisi psikologis seperti ini, aku yakin perlakuannya tidak boleh sembarangan. Ditambah lagi dengan beban dia yang susah mendapat pekerjaan selepas SMA padahal untuk biaya sekolah adiknya, dan konon katanya masalah asmara yang mendapat pertentangan sana sini.

Rumit.

Kenyataannya, belum lama dia tinggal dengan neneknya, tragedi ini terjadi. Dia mungkin sudah terlalu lelah dengan apa yang dia hadapi dalam hidup, begitu banyak kenyataan dan beban hidup datang tanpa tahu harus bagaimana.

Dan hari itu datanglah. Hari yang dia pilih untuk mengakhiri semua, untuk menutup buku masalah hidupnya. Untuk bertemu kembali dengan ibunya.

Selamat Jalan dek.. meski kau melakukan hal bodoh ini, dan meski aku masih penasaran dengan apa yang ada di benakmu saat itu, ttp aku doakan semoga kau mendapat tempat yang layak disisiNya. Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: